PENULISAN ALQURAN PADA MASA RASULULLAH SAW(Periode Mekkah)

Oleh : Rasyid Rizani, S.HI., M.HI

(Hakim pada Pengadilan Agama Bajawa NTT)

 

A.      PENDAHULUAN

Dipercayai oleh umat Islam bahwa penurunan Alquran terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Alquran sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsmān bin ‘Affān.

Pada periode Mekkah ini agar Alquran tidak tercampur dengan tulisan-tulisan lain, maka Rasulullah SAW memperingatkan kepada sahabat-sahabat beliau agar tidak menulis selain Alquran. Barangsiapa yang menulis selain Alquran yang berdusta atas nama Rasulullah, maka diancam dengan neraka. Oleh karena itulah penulis wahyu adalah orang-orang yang terpercaya.

Akan tetapi seorang orientalis bernama Blecher menolak kesimpulan tersebut. ia menghubungkannya dengan salah seorang penulis wahyu bernama Abdūllāh bin Abī Sarah. Kita mengakui bahwa Abdūllāh ibn Abī Sarah adalah penulis wahyu untuk Rasulullah SAW ketika beliau masih menetap di Mekkah. Beberapa waktu kemudian ia murtad. Namun, pada waktu penaklukkan Mekkah, ia masuk Islam kembali dan selanjutnya menjadi Muslim yang baik. Karena ia sudah menjadi Muslim yang baik lagi, tentunya ia telah memperbaik kembali ayat-ayat Alquran yang telah ditulisnya salah jika ia memang benar memanipulasi ayat-ayat Alquran tersebut.[1] Dari kritikan Blecher inilah saya mencoba memaparkan bahwa apa yang dia katakan itu tidaklah benar, bahwasanya Alquran itu pada periode Mekkah telah ditulis walaupun belum berbentuk sebuah mushaf seperti sekarang ini.   

B.       PENULISAN ALQURAN PADA MASA RASULULLAH SAW  PERIODE MEKKAH

Pengumpulan Alquran terbagi ke dalam 2 periode: periode Rasulullah SAW dan periode Khulafaurr­āsyidīn. Istilah pengumpulan kadang-kadang dimaksudkan dengan penghafalan Alquran dalam hati dan kadang-kadang pula dimaksudkan dengan penulisan dan pencatatan dalam lembaran-lembaran.[2]

Dr. Subhī Shālih berpendapat bahwa pengumpulan Alquran yang bermakna penulisan itu terbagi dalam 3 periode: periode Rasulullah SAW, periode Abu Bakar ash Shiddiq r.a, dan periode Utsmān bin ‘Affān r.a.[3]

Pengumpulan Alquran pada masa Rasulullah SAW ada 2 kategori :

1.      Pengumpulan dalam dada, berupa penghafalan dan penghayatan, dan

2.      Pengumpulan dalam dokumen atau catatan berupa penulisan pada kitab maupun berupa ukiran.

Langkah-langkah semacam ini tidak terjadi pada kitab-kitab samawi lainnya sebagaimana halnya perhatian terhadap Alquran sebagai kitab yang maha agung dan mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang abadi.

Alquran diturunkan kepada Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), oleh karena itu perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk menghafal dan menghayatinya saja, agar ia dapat menguasai Alquran persis sebagaimana halnya ia diturunkan. Setelah itu beliau membacakannya kepada para sahabat dengan begitu terang dan jelas agar merekapun dapat menghafal dan memantapkannya.[4] Allah SWT berfirman :

uqèd“Ï%©!$#y]yèt/’Îûz`¿Íh‹ÏiBW{$#Zwqߙu‘öNåk÷]ÏiB(#qè=÷FtƒöNÍköŽn=tã¾ÏmÏG»tƒ#uäöNÍkŽÏj.t“ãƒurãNßgßJÏk=yèãƒur|=»tGÅ3ø9$#spyJõ3Ïtø:$#urbÎ)ur(#qçR%x.`ÏBã@ö6s%’Ås99@»n=|Ê&ûüÎ7•BÇËÈ   

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Aljumu’ah: 2)

 

Nabi Muhammad SAW selalu menghiasi malam dengan membaca ayat-ayat Alquran melalui shalat sebagai pengabdian dan penghayatan serta pendalaman terhadap makna-maknanya sampai kedua telapak kakinya menjadi bengkak karena lama berdiri dalam melaksanakan perintah Allah SWT itu. Ini tidak lain karena keinginan beliau yang melambung tinggi untuk menguasai Alquran. Karena itu tidaklah mengherankan kalau beliau menjadi seorang yang paling menguasai Alquran.[5]

Begitu kuatnya kesungguhan Nabi SAW untuk mengingat dan menghafal setiap wahyu yang diterimanya, sehingga pada awal-awal turunnya wahyu ada kesan, beliau tergesa-gesa dalam mengingat dan menghafalnya. Karena itu, dalam hal ini Allah SWT mengingatkan beliau dengan firman-Nya antara lain :

’n?»yètGsùª!$#à7Î=yJø9$#‘,ysø9$#3Ÿwurö@yf÷ès?Èb#uäöà)ø9$$Î/`ÏBÈ@ö6s%br&#Ó|Óø)ペø‹s9Î)¼çmã‹ômur(@è%urÉb>§‘’ÎT÷ŠÎ—$VJù=ÏãÇÊÊÍÈ  

 

“Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)[6]

 

Walaupun pada saat itu orang-orang Arab banyak yang ummi, namun mereka berada dalam budaya Arab yang begitu tinggi, ingatan mereka kuat dan hafalannya cepat serta daya pikirnya begitu terbuka. Oleh karena itulah, mereka hanya mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatannya.

Para sahabat banyak terkenal hafal Alquran dan Rasulullah SAW telah membakar semangat mereka untuk menghidupkan semangat menghafal Alquran. Ibnu Atsir Al Jazary dalam kitab An Nasyr mengatakan: “sahabat yang menghafal Alquran di masa Nabi masih hidup banyak sekali. Mereka tidak memerlukan menulis Alquran oleh karena mereka sangat baik hafalannya”.

Di antara para sahabat yang menghafal Alquran seluruhnya adalah: Abū Bakar ash Shiddiq r.a, Umar bin Khattāb r.a, Utsmān bin Affān r.a, ‘Alī bin Abī Thālib r.a, Thalhah, Sa’ad, Hudzaifah, Salim, Abū Hurairah, Abdullah ibn Mas’ud, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Abbās, Amr ibn Ash, Abdullah ibn Amr ibn Ash, Mu’āwiyah, Ibnu Zubair, Abdullah ibn Assa’ib, isteri-isteri Nabi seperti Siti ‘Aisyah, Hafsah, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsābit, Abū Darda, Anas bin Mālik, dan lain-lain.[7]

Ada beberapa faktor yang mendorong minat mereka untuk menghafal kitab suci mereka itu dengan segera, yaitu :

1.     Alquran berisi sebagai ajaran dan petunjuk tentang kehidupan yang baik, beradab, dan sejahtera baik lahir maupun bathin.

2.     Belajar membaca dan mengajarkan Alquran kepada orang lain merupakan kegiatan ibadah yang paling utama dalam Islam.

3.     Orang yang terbaik dalam membaca Alquran dan terbanyak akan mendapat priorotas untuk ditunjuk menjadi imam shalat berjama’ah.

4.     Rasulullah sendiri telah memerintahkan kepada para sahabat agar selalu memelihara Alquran dengan sebaik-baiknya.[8]

Kendati diwahyukan secara lisan, Al-Qur’an sendiri secara konsisten menyebut sebagai kitab tertulis. Ini memberi petunjuk bahwa wahyu tersebut tercatat dalam tulisan. Pada dasarnya ayat-ayat Al-Qur’an tertulis sejak awal perkembangan Islam, meski masyarakat yang baru lahir itu masih menderita berbagai permasalahan akibat kekejaman yang dilancarkan oleh pihak kafir Quraish. Berikut cerita `Umar bin al-Khattab sejak ia masuk Islam yang akan kita pakai sebagai penjelasan masalah ini:

Suatu hari Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat yang berkumpul dalam sebuah rumah dibukti shafā. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamzah, Abū Bakar, Ali, dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia. Nu’aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya kemana Umar hendak pergi. “Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraisy khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang aku libas dia”. “Engkau hanya akan menipu diri sendiri Umar, katanya.” “Jika engkau menganggap bahwa banī Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dans elesaikan permasalahan mereka”. Umar pulang ambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa keluarganya. Nu’aim menjawab, “Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa’īd serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anda kembali menghubungi mereka.” Umar cepat-cepat memburu iparnya dirumah, tempat Khaba sedang membaca surah Thahā dari sepotong tulisan  Alquran. Saat mereka dengar suara Umar, Khaba lari masuk ke kamar kecil, sedang Fātima mengambil kertas kulit yang bertuliskan Alquran dan diletakkan di bawah pahanya….[9]

 

Kemarahan ‘Umar semakin membara begitu mendengar saudara­saudaranya masuk Islam. Keinginan membunuh orang yang beberapa saat sebelum itu la tuju semakin menjadi jadi. Masalah utama dalam cerita ini berkaitan dengan kulit kertas bertulisan Al-Qur’an, karena takutnya dengan kedatangan Umar tersebut sehingga Fatimah secara refleks meletakkan kertas kulit yang bertuliskan ayat Alquran itu di bawah pahanya. Adalah sangat tidak wajar kalau tulisan yang berisi ayat-ayat suci tesebut diletakkan di bawah paha, namun karena keadaan ketakutan itulah menurut penulis sehingga Fatimah terkejut dan meletakkannya di bawah paha.

Menurut Ibn ‘Abbas ayat-­ayat yang diturunkan di Mekah terekam dalam bentuk tulisan sejak dari sana, seperti dapat dilihat dalam ucapan az-Zuhri. ‘Abdullah bin Sa’d bin ‘Abi as-­Sarh, seorang yang terlibat dalam penulisan Al-Qur’an sewaktu dalam periode ini, dituduh oleh beberapa kalangan sebagai pemalsu ayat-ayat Al-Qur’an (suatu tuduhan yang seperti telah saya jelaskan sama sekali tak berdasar). Orang lain sebagai penulis resmi adalah Khalid bin Sa’id bin al-‘As di mana ia menjelaskan, “Saya orang pertama yang menulis ‘Bismillah ar-Rahman ar­Rahim’ (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).[10]

Al-Kattani mencatat peristiwa ini: Sewaktu Rafi` bin Malik al-Ansari menghadiri baiah al-’Aqaba, Nab! Muhammad menyerahkan semua ayat-ayat yang diturunkan pada dasawarsa sebelumnya. Ketika kembali ke Madinah, Rafi` mengumpulkan semua anggota sukunya dan membacakan di depan mereka.[11]

Masalah yang ingin dijelaskan dalam cerita ini adalah berkaitan dengan kulit kertas bertulisan Alquran. Riwayat di atas secara tidak langsung memberikan informasi kepada kita bahwa Alquran telah ditulis pada periode Mekkah sebagaimana juga pada periode Madinah. Menurut Ibnu ‘Abbās, ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah terekam dalam bentuk tulisan sejak dari sana, seperti dilihat dalam ucapan Az-Zuhrī, Abdullah bin Sa’d bin Abī Sarh, seorang yang terlibat dalam penulisan Alquran sewaktu dalam periode Mekkah ini. Orang lain sebagai penulis resmi adalah Khalid bin Sa’īd bin al-As, di mana ia menjelaskan, “Saya seorang pertama yang menulis ‘Bismillahirrahmanirrahim.[12]

Pada dasarnya ayat-ayat Alquran tertulis sejak awal perkembangan Islam, meski masyarakat yang baru lahir itu masih menderita berbagai permasalahan akibat kekejaman yang dilancarkan pihak kafir Quraisy. Rasulullah SAW di samping telah menyuruh dan mendorong minat para sahabat untuk menghafal Alquran, juga telah menyuruh mereka menuliskan ayat-ayat suci itu ke atas benda apa saja yang bisa ditulisi.

Tentang alat-alat yang digunakan dalam pengkodifikasian Alquran, maka riwayat-riwayat telah menyebutkan sebagi dari peralatan yang ada pada waktu itu, antara lain :

1.      ‘Usb, yakni pelepah kurma yang sudah dipisahkan dari batang-batang daunnya. Penulisan dilakukan pada bagiannya yang datar (rata). Jenisnya yang lain adalah al-karanif (kulit pohon kurma).

2.      Al-Likhāf, yaitu lempengan-lempengan batu yang halus

3.      Al-Riqa’, yaitu daun-daun atau kulit-kulit pohon tertentu.

4.      Al-Iktāf, yaitu tulang-tulang unta atau domba yang ditulisi sesudah dikeringkan.

5.      Al-Iqtāb, yaitu papan yang biasa diletakkan di atas punggung unta untuk menahan barang-barang bawaan.[13]

Praktek penulisan Alquran ini juga telah dijelaskan oleh Utsmān bin Affān berikut ini :

Surat yang banyak ayatnya sering diturunkan kepada Rasulullah SAW. Karena itu, apabila sesuatu dari surat itu diturunkan, beliau memanggil beberapa orang yang dapat menulis seraya bersabda: “Letakkanlah ayat-ayat ini di surat yang di dalamnya disebutkan begini-begini. Surat al-Anfal termasuk surat-surat yang pertama kali diturunkan di Madinah dan surat al-Barrāah termasuk surat yang terakhir diturunkan, padahal surat itu sama ceritanya dengan surat al-Anfāl. Karena itu, aku menganggapnya merupakan bagian dari surat al-Anfal. Rasulullah SAW wafat dan beliau tidak pernah menjelaskan hal itu kepada kami.[14]

 

Informasi lain juga memberikan penjelasan kepada kita bahwa kebiasaan orang-orang Arab menulis setiap transaksi  yang mereka lakukan. Jadi tidaklah mengherankan ketika Rasulullah SAW menyampaikan Alquran itu, para sahabat tergerak hati untuk menulisnya, terlebih lagi ketika Rasulullah SAW menyuruh mereka seperti pada riwayat di atas. Informasi itu seperti terlihat pada kebiasaan penduduk Mekkah sebagai berikut :

Mekkah adalah kota dagang yang mengandalkan perdagangan untuk keberadaannya, dan dalam hubungannya yang teratur dengan wilayah-wilayah yang sudah biasa menggunakan tulisan. Para pedagang Mekkah tentunya mencatat semua transaksinya. Bahasa kiasannya diliputi suasana dagang, dan menyiratkan adanya catatan.[15]  

 

Allah SWT menjaga kemurnian Alquran dari perubahan dan penyelewengan dengan 2 cara yaitu pengabdian dalam bentuk tulisan dan bentuk hafalan dalam hati, sebagaimana firman-Nya :

$¯RÎ)ß`øtwU$uZø9¨“tRtø.Ïe%!$#$¯RÎ)ur¼çms9tbqÝàÏÿ»ptm:ÇÒÈ  

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al Hijr: 9)

 

Di dalam berbagai riwayat yang shahih disebutkan bahwa setiap turun wahyu, Nabi memanggil penulis wahyu seperti terlihat ketika turun ayat 95 dari an-Nisa yang berbunyi :

žw“ÈqtGó¡o„tbr߉Ïè»s)ø9$#z`ÏBtûüÏZÏB÷sßJø9$#çŽöxî’Í<ré&͑uŽœØ9$#tbr߉Îg»yfçRùQ$#ur’ÎûÈ@‹Î6y™«!$#óOÎgÏ9ºuqøBrÎ/öNÍkŦàÿRr&ur4Ÿ@žÒsùª!$#tûïωÎg»yfçRùQ$#óOÎgÏ9ºuqøBrÎ/öNÍkŦàÿRr&ur’n?tãtûïωÏè»s)ø9$#Zpy_u‘yŠ4yxä.ury‰tãurª!$#4Óo_ó¡çtø:$#4Ÿ@žÒsùurª!$#tûïωÎg»yfßJø9$#’n?tãtûïωÏè»s)ø9$##·ô_r&$VJŠÏàtãÇÒÎÈ  

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (QS. An-Nisa: 95)

 

Hal yang senada juga diungkapkan oleh al-Barrā bahwa ketika ayat tersebut di atas turun, Rasulullah SAW bersabda, “Panggil Zaid agar menghadap aku dan suruh dia membawa sesuatu yang dapat ditulis dan dawat”. (setelah Zaid datang menghadap) Rasulullah SAW bersabda: “Tulis ayat la yastawī al-qā’idūna min al-Mu’minīn dan seterusnya.[16] Dalam redaksi lain juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Panggilkan saya Zaid dan hendaklah dia membawa tulang dan tinta kesini.[17]

Dari sabda beliau ini kita dapat pahami bahwa setiap kali beliau menerima wahyu dari Allah SWT, beliau memerintahkan para sahabat untuk segera menuliskannya. Para penulis wahyu itu ialah para sahabat kepercayaan Rasul seperti khalifah yang empat, Zaid bin Tsābit, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Abū Sufyān dan 2 orang puteranya yakni Mu’āwiyah dan Yazīd, Sa’īd ibn Al-‘Āsh dan 2 orang puteranya yaitu Abbān dan Khālid, Zubair ibn Al-‘Awwām, Thalhāh ibn ‘Ubaidillāh, Sa’ad ibn Abī Waqqāsh, Āmir ibnu Fuhairah, Abdullāh ibn Rawāħah, Abdullah ibn Sa’īd ibn Abī Sarah, Tsābit bin Qais, Ħanzhalah ibn al-Rabī’, Syuraħbil ibn Ħasanah, “alā ibn al-Hadlrami, Khālid ibn Walīd, Amr ibn ‘Āsh, Mughīrah ibn Syu’bah, Mu’aiqib ibn Abī Fāthimah, ħuzaifah al-Yamanī, dan Ħuwaithib ibn Abd al-‘Uzzā al-Āmīrī sehingga jumlah mereka mencapai 43 orang.[18] Yang paling sering bersama Nabi dan paling banyak menulis Alquran adalah Zaid bin Tsābit dan Alī bin Abī Thālib.[19]

Berikut ini dijelaskan tentang profil masing-masing 4 sahabat penulis wahyu tersebut, antara lain sebagai berikut :

1.      Zaid bin Tsābit

Kekuatan daya ingat Zaid bin Tsābit telah membuatnya diangkat penulis wahyu dan surat-surat Muhammad semasa hidupnya, dan menjadikannya tokoh yang terkemuka diantara para sahabat lainnya. Pada zaman kekhalifahan Abū Bakar dan ‘Umar, Zaid bin Tsābit adalah salah seorang yang diamanahkan untuk mengumpulkan dan menuliskan kembali Alquran dalam satu mushaf.

2.      Ali bin Abī Thālib

Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, Alī adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tesebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada usia remaja setelah wahyu turun, Alī banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada sahabat-sahabat yang lain.

3.      Mu’āwiyah bin Abū Sufyān

Bergelar Mu’awiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Alī, berbai’at padanya.

4.      Ubay bin Ka’ab

Ubay merupakan salah seorang penulis bagi Nabi Muhammad. Ubay diriwayatkan memiliki suatu mushaf khusus susunannya sendiri. Ubay juga adalah anggota kelompok penasehat (musyawarah) yang dibentuk oleh khalifah Abū Bakar sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan. Dewan tersebut terdiri dari Umar bin Khattāb, Utsmān bin ‘Affān, Ali bin Abi Thālib, Abdurrahman bin ‘Auf, Mu’ādz bin Jabal, Zaid bin Tsābit dan Ubay bin Ka’ab sendiri. Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattāb kemudian juga meminta nasehat dari kelompok yang sama, khususnya kepada Utsmān, Ubay dan Zaid bin Tsābit.

Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.[20]

Perhatian Rasulullah SAW terhadap penulisan ayat-ayat Alquran tidak hanya setelah beliau berada di Madinah, tetapi juga selagi beliau masih berada di Mekkah. Meskipun pada waktu itu jumlah kaum Muslim masih sedikit dan sarana penulisan masih langka serta kesempatan menulis ayat-ayat Alquran masih terbatas, catatan-catatan atau naskah-naskah yang berisi ayat-ayat Alquran dapat saja beredar di antara mereka. Tampaknya naskah-naskah tersebut di samping para penulis wahyu yang telah menuliskannya, juga ada kemungkinan para sahabat yang lain menuliskannya untuk kepentingan mereka sendiri.[21]

Agar tulisan-tulisan yang berisi ayat-ayat Alquran tidak bercampur dengan yang lainnya, Rasulullah SAW memperingatkan sahabat agar tidak menulis selain Alquran.

Oleh karena para penulis wahyu adalah orang-orang terpercaya, kemudian ditambah lagi dengan adanya peringatan Rasulullah SAW di atas, tidak diragukan lagi bahwa mereka hanya menulis ayat-ayat Alquran yang telah didiktekan beliau. Akan tetapi, seorang orientalis bernama Blecher menolak kesimpulan tersebut. Menurutnya, apabila kita dapat mempercayai sementara penulis wahyu secara mutlak, apa yang harus kita katakan terhadap orang yang bernama Abdullāh ibn Abī Saraħ yang murtad dan melakukan manipulasi terhadap penulisan Alquran. Misalnya, Rasulullah SAW telah mendiktekan kepadanya, عزيزا حكيماnamun ia telah menulisnya dengan غفورا رحيما. Selanjutnya, salah seorang murid dari Blecher yang bernama Dr. Musthafā Mandūr mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak mengetahui penulis wahyunya itu telah mengubah ayat-ayat Alquran yang telah didiktekan beliau.[22]

Telah disinggung pada bagian pendahuluan yang telah lalu, bahwa salah seorang penulis wahyu bernama Abdullāh ibn Abī Saraħ sewaktu Rasulullah masih berada di Mekkah, ia sempat murtad, namun kembali lagi memeluk agama Islam setelah penaklukkan kota Mekkah dan menjadi Muslim yang baik. Karena ia telah menjadi muslim yang baik tentu ayat-ayat Alquran yang telah salah ditulisnya diperbaikinya kembali jika memang betul dia telah memanipulasinya, namun karena tidak ada sebuah riwayat yang menerangkan yang pemanipulasian yang telah ia lakukan ini, boleh dikatakan pemanipulasian itu terjadi satu kali atau beberapa kali dalam batas yang sangat kecil. Di samping itu juga pemanipulasian itu dapat segera diketahui oleh para sahabat penulis wahyu yang lain sehingga mereka segera mengubahnya sebelum Abdullāh ibn Abī Saraħ kembali memeluk Islam.

Ketika menanggapi keritikan Blecher ini, Abd al-Shabūr mengatakan bahwa ada 2 kekeliruan yang terdapat dalam pernyataan Blecher dan muridnya itu, yaitu :

1.      Rujukan yang dipakai adalah kitab al-Mashāhīf, padahal riwayat yang disebutkan dalam kitab tesebut tidak ada hubungannya dengan Ibn Abī Saraħ dan riwayat tentang Ibn Abī Saraħ tidak ada pula dijumpai dalam kitab itu. Di dalam kitab tersebut diriwayatkan bahwa Ħammād ibn Salāmah dari Tsābit dari Anas ibn Mālik menceritakan, “seorang penulis wahyu untuk Rasulullah SAW apabila beliau mendiktekan سميعا بصيراia menulisnya سميعا عليماdan apabila beliau mendiktekan سميعا عليما, ia menulisnya سميعا بصيرا. Orang itu juga mengatakan bahwa ia telah menulis apa saja  yang disukai di hadapan Muhammad. Orang itu kemudian meninggal, lalu dikebumikan, tetapi ditolak dan dimuntahkan oleh bumi. Anas berkata bahwa Abū Thalħah menyatakan, “Aku melihatnya terlempar di atas tanah. Dari riwayat tersebut dapat diketahui dengan jelas bahwa akhir hayat seperti itu bukanlah akhir hayatnya Ibn Abī Saraħ.

2.      Riwayat yang dikutip dari al-Mashāhīf tersebut terlihat memberikan kesan kepada kita bahwa orang yang telah melakukan perubahan teks Alquran telah melakukannya dalam waktu yang lama, padahal Ibn Abī Saraħ seperti yang diceritakan oleh Abū Ħayyān hanya sekali melakukannya atau beberapa kali dalam batas yang sangat kecil.[23]  

 

 

C.      PENUTUP / KESIMPULAN

Pengumpulan Alquran yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah  penghafalan Alquran dalam hati dan pencatatan dalam lembaran-lembaran. Pengumpulan Alquran pada masa Rasulullah SAW terbagi atas 2 kategori : Pertama. Pengumpulan dalam dada, berupa penghafalan dan penghayatan. Kedua. Pengumpulan dalam dokumen atau catatan berupa penulisan pada kitab maupun berupa ukiran.

Alquran telah ditulisa pada masa Rasulullah SAW sejak periode Mekkah, namun jumlahnya masih terbatas karena kaum Muslim masih sedikit; sarana penulisan masih langka; serta kesempatan menulis ayat-ayat Alquran masih terbatas, catatan-catatan atau naskah-naskah yang berisi ayat-ayat Alquran dapat saja beredar di antara mereka. Ayat-ayat suci itu ditulis di atas benda apa saja yang bisa ditulisi, seperti pelepah kurma, kepingan batu, sobekan kain, keratan tulang dan lembaran kulit binatang yang sudah disamak.

Untuk menjaga keorisinilan Alquran, Rasulullah SAW menyuruh para sahabat beliau untuk menulis ayat-ayat Alquran itu secara utuh dan menempatkan ayat-ayatnya sesuai dengan suratnya masing-masing. Para penulis wahyu mengikuti pedoman yang digariskan antara lain mereka tidak dibenarkan sedikitpun menuliskan apa yang disampaikan Nabi selain Alquran.

Adalah tidak benar apa yang dikatakan oleh seorang orientalis yang bernama  Blecher dan muridnya bahwa penulisan Alquran pada periode Mekkah telah dimanipulasi oleh salah seorang penulis wahyu bernama Abdullāh ibn Abī Saraħ. Bukti-bukti penolakan yang dikemukannya tidak dapat dipertanggungjwabakan karena tidak sesuai dengan fakta sejarah penulisan Alquran yang telah ada

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

‘Azami, M.M, al-, 2005, The History The Quranic Text From Revelation To Compilation, A Comparative Study with the Old and New Testaments (Sejarah Teks Alquran dari Wahyu sampai Kompilasi, Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), Jakarta: Gema Insani.

 

AF, Hasanuddin, 1995, Anatomi Alquran, Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum dalam Alquran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

 

Athaillah, A, Dr, M.Ag, 2007, Sejarah Alquran, Verifikasi tentang Otentisitas Alquran, Banjarmasin: Antasari Press.

 

Aththar, Dawud Al-, Dr., 1994, Persepektif Baru Ilmu Alquran, Bandung: Pustaka Hidayah.

Baidan, Nashruddin, Prof, Dr, 2001, Metode Penafsiran Alquran, Kajian Kritis terhadap ayat-ayat yang beredaksi mirip,  Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

________________________, 2005, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. 1

 

Shābūnī, Muhammad ‘Ali ash-, 1985/1485, At Tibyan fi ‘Ulumil Quran, Beirut, cet. 1.

 

Shālih, Shubhī, Mabāhits fī ‘Ulūmil Quran, Dar al-‘Ilmi lil Mallāyīn.

 

Shiddieqy, T.M. Hasbi ash-, Prof, Dr, 1980, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran / Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang.

 

Watt, W. Montgomery, 1998, Richard Bell: Pengantar Alquran, Jakarta, INIS.

 

Zanjani, Abu Abdullah az-, 1993, Wawasan Baru Tarikh Alquran, Bandung: Penerbit Mizan.  

 

Website :

http://danalingga.wordpress.com/2008/05/17/al-quran-sejati/#more-187

 

 

 



[1]A.Athaillah, Sejarah Alquran, Verifikasi tentang Otentisitas Alquran, (Banjarmasin: Antasari Press, 2007), h. 194

[2]Muhammad ‘Ali ash Shābuni , At Tibyan fi ‘Ulumil Quran, (Beirut, 1985/1405), cet. 1, h. 49

[3]Subhī Shālih, Mabāhits fī ‘Ulūmil Quran, (Dar al-‘Ilmi lil Mallāyīn), h. 69

[4]Ibid, h. 50

[5]Ibid,  

[6]Hasanuddin AF, Anatomi Alquran, Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya terhadap Istinbath Hukum dalam Alquran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), h. 45

[7]T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran / Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 85

[8]A. Athaillah, Op. Cit h.  175 – 180

[9]M.M. al-‘Azami, The History The Quranic Text From Revelation To Compilation, A Comparative Study with the Old and New Testaments (Sejarah Teks Alquran dari Wahyu sampai Kompilasi, Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), (Jakarta: Gema Insani, 2005), h. 71

[10]As-Suyuti, ad-Dur al-Manthur, i: 11

[11]Al-Kattani, al-Tarat76 al-Idariya, 1: 44, dengan mengutip pendapat Zubair bin Bakkar, Akhbar al-Madina.

[12]M.M. al-‘Azami , Op. Cit, h. 72

[13]Dawud Al-Aththar, Persepektif Baru Ilmu Alquran, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 154

[14]A. Athaillah, Op. Cit, h. 188

[15]W. Montgomery Watt, Richard Bell: Pengantar Alquran, (Jakarta, INIS, 1998), h. 28

[16]A. Athaillah, Loc. Cit  

[17]Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari VI, h. 227

[18]A. Athaillah, Op. Cit, h. 189. Lihat juga: Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran Alquran, Kajian Kritis terhadap ayat-ayat yang beredaksi mirip,  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 31

[19]Abu Abdullah Az-Zanjani, Wawasan Baru Tarikh Alquran, (Bandung: Penerbit Mizan, 1993), h. 63

[21]A. Athaillah, Op. Cit, h. 189 – 190.

[22]Ibid, h. 193

[23]Ibid, h. 194 – 195