BIOGRAFI IMAM SYAFI’I ( 150 – 204 H / 767 – 820 M )

 A.    Kelahiran dan Asal Usul Imam Syafi’i

Nama lengkap Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris Ibn ‘Abbas Ibn Utsman Ibn Syafi’ Ibn ‘Ubaid Ibn al-Sa’ib Ibn ‘Ubaid Ibn ‘Abd Yazid Ibn Hasyim Ibn ‘Abd al-Muthalib Ibn Abdi Manaf.[1] Beliau dilahirkan pada tahun 150 H ( 767 M ) di Ghazza(h), Palestina, pada masa pemerintahan Bani Abbas, tepatnya pada zaman kekuasaan Abu Ja’far Al-Manshur (137-159 H / 754-774 M).

Idris Ibn ‘Abbas atau ayah Imam Syafi’i  bersuku Quraisy, sedangkan ibu beliau yang bernama Fathimah binti Abdillah al-Azdiyah bersukuYaman. Sedangkan Imam Syafi’i sendiri bersuku Quraisy seperti ayah beliau.

Imam Syafi’i adalah seorang yang tampan, badannya tinggi serta tengkuknya jenjang, warna kulit beliau hitam kemerahan, suaranya merdu dan baik, manusia menangis tatkala mendengar beliau membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Imam Syafi’i tidak melampaui batas membelanjakan uangnya untuk pakaian, beliau memakai sebentuk cincin yang bertuliskan :

كَفَى بِاللهِ ثِقَةُ لِمُحَمَّدٍ بْنِ اِدْرِيْس

Artinya:

Kepada Allah aku berserah, hak milik Muhammad bin Idris.

 Imam Syafi’i juga mengetahui tentang ilmu kedokteran, mahir dalam memanah serta cakap menunggang kuda.

Imam Syafi’i adalah seorang yang cakap pemikirannya, kuat ingatannya serta luas wawasan dan pikirannya.

Imam Syafi’i seorang yang sangat fasih lidahnya, luas penerangan serta kuat imannya, akhlaknya lembut dan murah hati.

Imam Syafi’i selalu mengikuti kebenaran di mana saja beliau berada, beliau tidak segan atau malu kembali kepada kebenaran apabila beliau ditentang.

Imam Syafi’i juga mempunyai sikap yang tegas dalam berpegang dengan kebenaran dan kejujurannya dalam bidang ilmu pengetahuan beliau tidak sekali-kali terpengaruh dengan persahabatan atau keluarga bahkan beliau tetap patuh pada kebenaran, beliau mendahulukan keridhaan Allah daripada keridhaan orang.

B.     Pendidikan, Guru, dan Murid Imam Syafi’i

1.      Pendidikan Imam Syafi’i

Imam Syafi’i adalah orang yang sangat kuat ingatan dan hafalan, minat dan semangat belajar yang tinggi, serta kerajinan dan ketekunan yang tak kenal lelah. Pada usia 7 tahun beliau telah hafal Al-Qur’an dan pada usia 10 tahun beliau juga hafal dan menguasai kitab Al-Muwathata’ karangan Imam Malik r.a.[2]

Pendidikan Imam Syafi’i terbagi dalam 3 tahap, yaitu:

1.      Masa Kanak-Kanak

Pada masa ini Imam Syafi’i mulai belajar baca tulis, menghafal Al-Qur’an dan beberapa buah hadits yang diberikan oleh guru beliau. Karena beliau tergolong dari keluarga yang kurang mampu, maka beliau mencatat pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru beliau pada tulang, tembikar, dan kertas-kertas bekas kemudian dengan tekun beliau hafal catatn-catatn itu di luar kepala. Maka tidaklah heran ruangan tempat tidur beliau dipenuhi oleh catatan-catatan.[3]

2.      Masa Remaja

Pada masa inilah beliau pergi ke perkampungan kabilah Hudzail untuk belajar bahasa. Karena kabilah Hudzail terkenal baik bahasa Arabnya, Imam Syafi’i  banyak menghafal syair dan qasidah dari kabilah Hudzail. Selain belajar bahasa, beliau juga belajar adat istiadat mereka  seperti memanah, sehingga beliau dapat memanah sepuluh batang panah tanpa melakukan kesilapan. Sekembalinya dari sana beliau mulai pula belajar ilmu fiqih dan hadits serta mendapat kepercayaan untuk memberi fatwa di kota Mekkah.

3.      Masa Dewasa

Pada masa ini Imam Syafi’i hijrah ke kota Madinah untuk belajar kepada Imam Malik. Sering juga beliau diminta oleh Imam Malik untuk membacakan isi kitab Al-Muwaththa’ di depan murid-murid madrasah Imam Malik.

Selain itu beliau juga mendengar bahwa di kota Baghdad ada 2 ulama besar murid Imam Abu hanifah yang bernama Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani. Maka atas restu Imam Malik beliau berangkat ke Baghdad untuk berguru kepada 2 orang ulama besar itu.

2.  Guru dan Murid Imam Syafi’i

Selain berguru pada Imam Malik, Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad Ibn al-Hasan, beliau juga berguru pada beberapa orang ulama, yaitu:

Ø  Di Yaman : Mutharraf ibn Mazim, Hisyam ibn Yusuf, Umar ibn Abi    Salamah, dan Yahya ibn Hasan.

Ø  Di Mekkah : Sufyan ibn ‘Uyainah, Muslim ibn Khalid al-Zanji, Sa’id ibn Salim al-Kaddah, Daud ibn ‘Abd al-Rahman al-‘Aththar dan ‘Abd al-Hamid ‘Abd al-‘Aziz ibn Abi Zuwad.

Ø  Di Madinah : Ibrahim ibn Sa’ad al-Anshari, ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad al-Dahwardi Ibrahim ibn Abi Yahya al-Aslami, Muhammad ibn Sa’id ibn Abi Fudaik, dan ‘Abd Allah ibn Nafi’.

Adapun murid-murid Imam Syafi’i di antaranya ialah : Imam Daud az-Zahiri (pendiri mazhab az-Zahiri), al-Za’farani, al-Kurabisyi, Abu Tsaur, Ibn Hanbal al-Buthi, al-Muzani, al-Rabi’ al-Muradi di Mesir, dan Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Salam al-Luqawi di Irak.[4]

C.    Sumber atau Dasar Mazhab Syafi’i

Dalam membangun pendapat atau mazhabnya Imam Syafi’i  berpegang pada sumber-sumber pokok, yaitu: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas, dan Qaul sahabat. Sumber-sumber ijtihad lainnya juga dipakai sebagai sumber penunjang , seperti istishhab dan ‘urf. Adapun simber-sumber ijtihad seperti istihsan, mashlahatul mursalah, saddu ‘dzari’ah dan syar’u man qablana diterima dalam batas-batas minim yang dipahami menurut pengertian dan pemahaman sendiri.

D.    Cara Ijtihad, Qaul Qadim dan Qaul Jadid Imam Syafi’i

1.      Cara Ijtihad Imam Syafi’i

Adapun langkah-langkah ijtihadnya Imam Syafi’I adalah sebagai berikut: Asal adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Apabila tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, ia melakukan qiyas terhadap keduanya. Apabila hadits telah muttashil dan sanadnya shahih, berarti ia termasuk berkualitas. Maka hadits yang diutamakan adalah makna zhahir; ia menolak hadits munqathi’ kecuali yang diriwayatkan oleh Ibnu al-Musayyab; poko (al-ashl) tidak boleh dianalogikan kepada pokok; bagi pokok tidak perlu dipertanyakan “mengapa” dan “bagaimana” (lima wa kaifa); “mengapa” dan “bagaimana” hanya dipertanyakan pada cabang (furu’).[5]

2.      Qaul Qadim dan Qaul Jadid Imam Syafi’i

Qaul Qadim adalah pendapat Imam Syafi’i yang dikemukakan dan ditulis di Irak, sedangkan Qaul Jadid adalah pendapat Imam Syafi’i yang dikemukakan dan ditulis di Mesir.

Sebab terbentuknya qaul qadim dan qaul jadid adalah karena Imam Syafi’i mendengar (dan menemukan) hadits dan fiqih yang diriwayatkan ulama Mesir yang tergolong ahl al-Hadits.[6] Kamil Musa mengatakan bahwa pendapat Imam Syafi’i yang didektikan dan ditulis di Irak (195 H) disebut qaul qadim, dan pendapat beliau yang didektikan kepada muridnya di Mesir disebut qaul jadid. Adapun sebab timbulnya qaul jadid– menurut Kamil Musa- adalah karena Imam Syafi’i mendapatkan hadits yang tidak ia dapatkan di Irak dan Hijaz; dan ia menyaksikan adat dan kegiatan muamalat yang berbeda dengan di Irak. Pendapat Imam Syafi’i yang termasuk qaul jadid dikumpulkan dalam kitab al-Umm.

Beberapa contoh qaul qadim dan qaul jadid Imam Syafi’i

No

Topik

Qaul Qadim

Qaul Jadid

1

Tertib dalam wudhu

Orang yang wudunya tidak tertib karena lupa adalah sah (463)

Orang yang wudunya tidak tertib, meskipun lupa adalah tidak sah (463)

2

Mengulangi shalat karena menemukan air

Orang yang shalat dengan tayamum karena tidak mendapatkan air, tidak perlu mengulangi shalatnya meskipun setelah shalat ia mendapatkan air. (491)

Orang yang shalat dengan tayamum karena tidak mendapatkan air, diwajibkan mengulangi shalatnya apabila yang bersangkutan mendapatkan air segera setelah selesai shalat. (491)[7]

E.     Beberapa Pendapat Imam Syafi’i

1.      Imamah

Menurut Imam Syafi’i, masalah imamah termasuk masalah agama; karena itu, menurutnya, mendirikan imamah merupakan kewajiban agama  (bukan sekedar kewajiban ‘aqli). Pemimpin umat Islam mesti beragama Islam dan orang-orang non muslim terlindungi. 

2.      Hakim Perempuan

Menurut Imam Syafi’i, perempuan tidak boleh menjadi hakim secara mutlak; artinya, perempuan tidak boleh menjadi hakim baik hakim yang menangani hukum perdata ataupun pidana. Cara ijtihad yang digunakan beliau adalah qiyas. Dalam pandangan beliau, Nabi Muhammad melarang perempuan menjadi pemimpin. Karena itu, perempuan tidak boleh menjadi hakim.

F.     Kitab-Kitab Imam Syafi’i

Ahmad Nahrawi ‘Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam Syafi’i adalah:

1.      al-Umm.

2.      al-Risalah.

3.      al-Mabsuth.

4.      al-Hujjah.

5.      Musnad li al-Syafi’i.

Berikut ini di antara kitab-kitab kaidah fiqih aliran Syafi’iyah adalah:

1.      Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam karya Ibnu ‘Abd al-Salam (w. 660 H).

2.      al-Asybah wa al-Nazha’ir karya Ibnu Wakil (w. 716).

3.      al-Asybah wa al-Nazha’ir karya Taj al-Din al-Subki (w. 771 H).

4.      al-Asybah wa al-Nazha’ir karya Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H).

5.      al-Asybah wa al-Nazha’ir karya Jalal al-Din al-Sayuthi (w. 911 H).

G.    Perkembangan dan Pengaruh Mazhab Syafi’i

Perkembangan dan pengaruh mazhab Syafi’i meluas ke berbagai kota seperti Mesir, Syiria, Yaman ( sekarang didominasi mazhab Zaidiyah ), Persia ( sekarang didominasi oleh mazhab Syi’ah Imamiyah ), Khurasan, India dan sekitarnya, Sri Lanka terus ke Timur jauh seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filiphina, Indocina dan Tiongkok. Di benua Afrika kecuali Mesir, juga ke Afrika Utara dan Timur sampai ke Tunisia dan ke Arabia Selatan seperti Aden dan Hadramaut.[8]

H.    Wafatnya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i banyak mengidap penyakit sewaktu hidupnya. Di antaranya ialah “penyakit wasir” yang mana menyebabkan keluar darah pada tiap-tipa waktu.

Imam Syafi’i meninggal dunia di Mesir pada malam Kamis sesudah maghrib, yaitu pada tanggal 29 Rajab  204 H / 20 Januari 820 M, pada usia 54 tahun. Beliau wafat di tempat kediaman Abdullah bin Abdul Hakam dan kepadanyalah beliau meninggalkan wasiat. Jenazah Imam Syafi’i  dikebumikan pada hari Jum’at keesokan harinya. Anak-anak abdul Hakam mengebumikannya di tanah pekuburan mereka. Kubur beliau adalah kubur-kubur anak Zahrah.

[1] Abu Zahrah, Tarikh al-madzahib al-Fiqhiyyah, Kairo: Mathba’ah al-Madani, t.t. hal. 246.

[2] Asy-Syarbini al-Khathib, Mughny al-Muhtaj, Mesir: Mushtafa al-Babi al_halabi,j.I. 1985, hal. 13.

[3] KH. Munawar Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Jakarta: Bulan Bintang, 1983, hal. 155.

[4] Ahmad Amin, Dluha al-Islam, Mesir: Maktabah al-Nahdlah al-Mishriyyah, 1974, t. th: 222.

[5] Thaha jabir Fayadh al-‘Ulwani, Adab al-Ikhtilaf al-Islam, Washington: The International Institute of  Islamic Thought, 1987, hal. 95.

[6] Sya’ban Muhammad Isma’il, Al-Tasyri’ al-Islami: mashadiruh wa Ath-Waruh, Mesir: maktbah al-Nahdlah al-Mishriyyah, 1985, hal. 338.

[7] Angka-angka dalam kurung yang terdapat dalam tabel ini adalah halaman buku Imam Syafi’i fi Mazhabah al-Qadim wa al-Jadid karya ahmad Nahrawi ‘Abd al-Salam.

[8] Al-Jundi, Nashir al-Sunnah wa Wadhi’ al-Ushul, Kairo: Dar al-Katib al-‘Arabi, 1967. hal. 364.