FILSAFAT ILMU

Oleh   : Rasyid Rizani, S.HI., M.HI

(Hakim pada Pengadilan Agama Bajawa – NTT)

  • Berfikir pada dasarnya merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan”. (hlm. 1-2).

“Filsafat sebagai suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya”. (hlm. 4).

Sedangkan “Ilmu  merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan” (hlm. 3). Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut “Apakah yang ingin kita ketahui ? bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan ? dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita ?” (hlm. 2)

 Jujun mengaitkan ketiga unsur tersebut dalam sebuah proses yang pasti di hadapi oleh manusia sejak lahir, yaitu gerak pemikiran. Proses berpikir manusia dimulai sejak dia bayi dan mulai bisa berkata-kata. Bahasa merupakan salah satu lambang untuk mengekspresikan proses tersebut yaitu dengan kata-kata, kemudian proses itu akan terus berlanjut sampai manusia itu memasuki pendidikan secara formal, dia mulai menganal matematika sebagai bahasa yang menggunakan lambang angka. Dengan kedua bahasa (bahasa verbal dan matematika) seseorang manusia mulai berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya.

Setelah melalui proses tersebut, seiring dengan perkembangan otak, maka cara berpikirpun akan semakin maju, mendalam, dan kritis. Dan inilah yang disebut dengan berpikir dengan menggunakan filsafat. Mengetahui sesuatu dengan mendalam dan kritis untuk menemukan hakekat sebenarnya.

Setelah melalui proses berfilsafat itu, maka akan menghasilkan apa yang disebut dengan ilmu, ia akan mengetahui kegunaan sesuatu itu (ontologi), dengan menjalani proses tersebut di atas (epstemologi) yang pada akhirnya akan menemukan sebuah nilai dari obyek yang dihasilkan pemikiran tersebut (axiologi).

  • Menurut Jujun, “Ilmu (Science)” merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan dengan metode keilmuan”. (hal 9). Dalam metode keilmuan ada 2 pola untuk memperoleh pengetahuan.

Pertama, berpikir secara rasional, idea kebenaran itu sudah ada, pikiran manusia tidak dapat menciptakan idea tersebut dan tidak pula didapat melalui pengalaman, akan tetapi manusia dapat mengetahui idea tersebut. Sistem pengetahuan yang dibangun di atas landasan pernyataan yang sudah pasti. Misalnya si A berpendapat bahwa bumi itu bulat, karena ia melihatnya dari luar angkasa. Sedangkan si  B mengatakan bumi itu datar, karena ia melihat bumi dari darat. Kedua pernyataan ini tampak bertentangan, karena masing-masing berpendapat dengan dasar atau landasan atau persepsi yang berbeda pula, maka keduanya tidak akan ketemu. Menurut si A pendapatnya yang benar, begitu pula sebaliknya si B. jadi kalau melihat dari cara berpikir seperti ini, kebenaran sesuatu itu dilihat dari sudut mana ia memandang.

kedua,berpikir secara empiris. Menurut aliran ini, pengetahuan itu diperoleh melalui pengalaman, misalnya kita merasakan gula itu manis, karena kita pernah mencicipinya, garam itu asin, empedu itu pahit, bola itu bulat, dan lain sebagainya, pengetahun seperti ini diperoleh melalui pengalaman, maka alat yang digunakan tentunya adalah panca indera.

Sedangkan  “Pengetahuan (Knowledge) merupakan proses pembahasan secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” (hal. 9).

Pengetahuan ini disebut juga dengan “ma’rifah”. Seperti kewajiban kita mengenal Allah SWT, maka kita diajarkan untuk mengetahu sifat-sifat wajib, mustahil dan yang harus bagi Allah. Proses ini tentu pernah kita alami waktu belajar ilmu tauhid atau yang dikenal masyarakat dengan “belajar sifat 20”. Lain lagi halnya, ketika kita belajar diperguruan tinggi, untuk memperoleh pengetahuan tersebut, kita harus mempelajari apa yang ada disekitar kita, mengenal Allah bukan hanya melalui belajar sifat-sifat 20 itu saja, melainkan juga dengan mempelajari ayat-ayat kauniah, yaitu bumi dan segala isinya ini.

  •  Yang menjadi “obyek kajian ilmu adalah: seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia”. (hal. 5).

Fakta empiris merupakan fakta yang langsung kita alami melalui panca indera. Seperti ingin mengetahui lebih mendalam tentang kehidupan makhluk hidup, maka kita harus mempelajari biologi. Ingin mengetahui gejala-gejala kemasyarakatan yang terjadi di sekitar kita, tentunya juga harus mempelajari ilmu sosial, dan lain sebagainya.

Contoh lain lagi, untuk mengetahui berapa banyak pendukung partai tertentu, maka kita harus terjun kelapangan dengan mengadakan penelitian random sampling misalnya, untuk mengumpulkan data-data berapa banyak pendukung partai tersebut pada sebuah daerah.

  • Asumsi-asumsi yang mendasari ilmu terhadap objek yang dikajinya adalah:
    1. “Menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya.” (hal 7). Berdasarkan asumsi inilah kita mengklasifikasikan objek yang mempunyai kesamaan, dengan adanya klasifikasi ini individu pada suatu kelas tertentu mempunyai ciri-ciri atau karakter yang serupa.
    2. “Anggapan bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.” (hal 8). Artinya terhadap objek yang berubah-rubah kegiatan tidak mungkin dapat dilakukan, ilmu hanya menuntut kelestarian yang relatif saja.
    3. “Determinasi, yang menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan-urutan kejadian yang sama.” (hal.8) Tiap kejadian itu mengalami pola-pola yang berurutan, misalnya ketika pisau yang tajam diiriskan ke tangan maka akan luka, kejadian seperti ini bukanlah kebetulan, melainkan ada keterkaitan proses atau hubungan sebab akibat
  • “Metode rasional adalah suatu metode keilmuan yang berdasarkan rasionalisme, ide tentang kebenaran sudah ada, ilmu pengetahuan diperoleh lewat berpikir secara rasional, terlepas dari pengalaman”. (hal. 10). Sedangkan metode empiris adalah suatu metode keilmuan untuk memperoleh kebenaran dengan kembali kepada alam, pengetahuan diperoleh melalui pengalaman.” (hal. 10)

Gabungan antara kedua metode ini apabila digunakan secara dinamis akan menghasilkan pengetahuan yang konsisten dan sistematis, karena dapat diuji secara empiris, dengan menggunakan panca indera. Misalnya ketika seseorang mengatakan dapat menjalankan sepeda motor tanpa menggunakan bahan bakar bensin, melainkan dengan bahan bakar air, seorang ilmuan selalu bersifat skeptis, artinya tidak akan menerima kebenaran itu tanpa didahului oleh penjelasan mengenai hal tersebut. Apabila pernyataan di atas dapat dibuktikan secara empiris, maka kebenaran yang dihasilkan akan konsisten yang dapat dipertanggungjawabkan secara nyata, dan dapat dibuktikan dengan panca indera.

  • “Kelebihan ilmu terletak pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis serta telah teruji kebenarannya”. (hal 13). Namun, selain mempunyai kelebihan, ilmu juga memiliki keterbatasan untuk memecahkan problematika kehidupan manusia, sebab “kekurangan ilmu itu bersumber pada asumsi landasan epistemologi ilmu, yang menyatakan bahwa kita memeproleh ilmu lewat ingatan dan penalaran” (hal 17). Ingatan dan penalaran berasal dari panca indera kita yang pada hakikatnya kemampuan panca indera dalam mengetahui sesuatu itu sangat terbatas. Selain sangat terbatas, panca indera juga tidak sempurna dan kadang bisa menyesatkan, misalnya ketika kita melihat bulan, dari bumi memang tampak mulus dan indah dan bercahaya, tapi pada dasarnya bulan itu kasar dan tak bercahaya. Inilah salah satu bukti bahwa kemampuan panca indera sangat terbatas. Karena ilmu diperoleh melalui alat tersebut sangatlah tepat ketika ilmu mempunyai keterbatasan dalam memecahkan problematika yang kita hadapi. Misalnya ketika kita berpikir tentang Tuhan, kita hanya disuruh untuk mengenalnya saja, tidak untuk mengetahuinya, karena Tuhan Maha Mengetahui bahwa kita tidak akan mampu mengetahui Tuhan secara detail.
  • “Berpikir deduktif adalah proses penarikan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang kebenarannya telah diketahui. Dalam penelaran deduktif ini logika memegang peranan yang sangat penting.”(hal 21-22)

Contohnya :

Semua pisau bila di asah akan tajam

X adalah sebuah pisau

X diasah akan tajam

“Berpikir induktif adalah suatu cara berpikir dalam pengambilan keputusan di mana kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus individual”. (hal. 20) dalam proses berpikir induktif ini diperlukan statistika agar dapat membantu kita dalam menarik kesimpulan umum yang dapat diandalkan. “Statistika mempunyai peranan penting lainnya bila dihubungkan dengan asumsi keilmuan mengenai hubungan sebab akibat” (hal 21). Ilmu tidaklah menyatakan suatu peristiwa selalu menyebabkan peristiwa lain, melainkan hanya menyatakan peluang untuk terjadinya peritiwa lain.

Contohnya pernyataan: ketika tangan teriris pisau maka akan luka. Ini tidaklah menyatakan selalu, artinya tangan tidak selalu luka bila kena pisau, bisa luka bisa juga tidak, melainkan hanya sebuah peluang saja, artinya ketika tangan teriris pisau, maka mempunyai peluang untuk luka.

Contoh berpikir secara induktif :

Muhammad Ali adalah orang yang beriman dan beramal shaleh

Muhammad Ali akan masuk surga

Semua orang yang beriman dan beramal shaleh akan masuk surga

  • Pandangan Jujun mengenai filsafat bukan hanya sebagai proses berpikir keilmuan tetapi juga mempersoalkan untuk apa ilmu bagi manusia.

“Pengetahuan adalah kekuasaan, kekuasaan itu merupakan berkat atau juga malapetaka bagi umat manusia, semua terletak pada orang yang menggunakan kekuasaan tersebut” (hal. 35). Ilmu itu sifatnya netral, ia tidak berpihak kepada baik atau buruk, tergantung kepada penggunanya saja. Bila penggunanya baik maka ilmu juga akan terarah kepada yang terbaik, begitu juga sebaliknya. Pada hakekatnya tujuan ilmu itu adalah untuk kesejahteraan umat manusia, tetapi dalam perjalanannya tentu saja ada rintangan yang negatif, yaitu ilmu juga bisa membawa malapetaka. Misalnya pengetahuan tentang kimia, akan membawa manfaat bagi kemajuan ilmu kedokteran, dengan rumus-rumus kimia, ia akan dapat membuat obat yang akan bermanfaat untuk kesehatan, tapi sebaliknya jika disalahgunakan akan berakibat sebaliknya, dengan kimia orang akan bida membuat racun yang mematikan untuk menghancurkan umat manusia. Contoh lain lagi, dengan adanya pengetahuan tentang hukum, akan membuat orang taat kepada hukum dan hidupnya akan lebih teratur, tetapi bisa juga sebaliknya, dengan mengetahui hukum, orang gampang saja memutarbalikkan hukum demi kepentingan pribadi.