Sejarah Kelahiran Ilmu Kalam

SEJARAH KELAHIRAN ILMU KALAM

Oleh: Rasyid Rizani, S.HI., M.HI

(Hakim pada Pengadilan Agama Bajawa)

 Abstrak

Benih-benih tumbuhnya aliran dalam teologi Islam sudah mulai muncul sejak pemerintahan khalifah Utsman bin Affan ra. Tindakan-tindakan beliau dalam bidang politik yang mengangkat keluarga dekat sebagai pejabat penting dalam lingkungan pemerintahan Islam telah menimbulkan atau melahirkan golongan-golongan yang tidak senang terhadap beliau. Dan pada puncaknya yaitu terjadi pemberontakan-pemberontakan seperti yang dilakuakn oleh pemberontak dari Mesir yang mengepung rumah Sayyidina Utsman sehingga dalam pengepungan itu mereka berhasil membunuh khalifah yang ketiga sekaligus menantu Rasulullah SAW ini.

Setelah khalifah Utsman wafat, maka diangkatlah Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau. Di masa Ali ini muncul beberapa orang yang tidak senang terhadap beliau seperti Mu’awiyah yang memfitnah beliau terlibat dalam pembunuhan khalifah Utsman, karena tindakan Ali yang tidak menghukum Muhammad bin Abi Bakr salah seorang pembunuh Utsman, bahkan beliau mengangkatnya sebagai Gubernur Mesir.

Dan pada akhirnya terjadilah perang di antara Ali dan Mu’awiyah yang dimana pada perang itu Mu’awiyah berhasil membuat tipu muslihat dengan mengadakan arbitrase (perjanjian damai). Akibat perjanjian inilah, maka muncul golongan yang tidak suka terhadap tindakan Ali yang menyetujui perjanjian itu dan kemudian golongan ini keluar dari barisan Ali dan menganggap Ali telah murtad, golongan ini dikenal dengan nama Khawarij.

Setelah golongan ini muncul, maka bermunculan lagi golongan-golongan yang lain seperti Murji’ah dan Mutazilah.

Ketiga golongan inilah yang disebut golongan pertama yang muncul dalam teologi Islam yang pada perkembangan selanjutnya golongan ini terpecah lagi menjadi beberapa sekte atau aliran.

SEJARAH KELAHIRAN ILMU KALAM

 A.    Pengertian dan Nama-Nama Ilmu Kalam

Secara harfiah, kata-kata Arab kalam, berarti “pembicaraan”. Tetapi sebagai istilah, kalam tidaklah dimaksudkan “pembicaraan” dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalam ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kata kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai ter jemahan kata dan istilah Yunani logos yang juga secara harfiah berarti “pembicaraan”, tapi yang dari kata itulah terambil kata logika dan logis sebagai derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin ke dalam kata Arab manthiq, sehingga ilmu logika, khususnya logika formal atau silogisme ciptaan Aristoteles dinamakan Ilmu Mantiq (‘Ilm al-Mantiq). Maka kata Arab “manthiqi” berarti “logis”.[1]

Dari penjelasan singkat itu dapat diketahui bahwa Ilmu Kalam amat erat kaitannya dengan Ilmu Mantiq atau Logika. Itu, bersama dengan Falsafah secara keseluruhan, mulai dikenal orang-orang Muslim Arab setelah mereka menaklukkan dan kemudian bergaul dengan bangsa-bangsa yang berlatar-belakang peradaban Yunani dan dunia pemikiran Yunani (Hellenisme). Hampir semua daerah menjadi sasaran pembebasan (fat’h, liberation) orang-orang Muslim telah terlebih dahulu mengalami Hellenisasi (disamping Kristenisasi). Daerah-daerah itu ialah Syria, Irak, Mesir dan Anatolia, dengan pusat-pusat Hellenisme yang giat seperti Damaskus, Atiokia, Harran, dan Aleksandria. Persia (Iran) pun, meski tidak mengalami Kristenisasi (tetap beragama Majusi atau Zoroastrianisme), juga sedikit banyak mengalami Hellenisasi, dengan Jundisapur sebagai pusat Hellenisme Persia.

Di dalam lapangan pemikiran Islam istilah kalam memiliki 2 pengertian  yaitu firman Allah dan Ilmu kalam.[2] Pengertian yang kedua ini lebih menunjukkan kepada teologi dogmatik dalam Islam dan sekaligus juga merupakan initi pembahasan dalam ilmu kalam.

Kata-kata kalam dalam Al-Qur’an seperti pada firman Allah SWT :

Wxߙâ‘ur ô‰s% öNßg»oYóÁ|Ás% šø‹n=tã `ÏB ã@ö6s% Wxߙâ‘ur öN©9 öNßgóÁÝÁø)tR šø‹n=tã 4 zN¯=x.ur ª!$# 4Óy›qãB $VJŠÎ=ò6s? ÇÊÏÍÈ

Artinya :

Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.[3] (QS. An-Nisa; 164)

Ilmu kalam disebut juga dengan ilmu tauhid, ilmu shuluddin dan ilmu fiqh al-akbar.

Dinamakan dengan ilmu kalam karena :

  1. Masalah perselisihan yang paling sering diperdebatkan di antara golongan-golongan Islam adalah masalah teologis, terutama menyangkut firman Tuhan atau kalam Ilahi.
  2. Ilmu kalam adalah dalil-dalil aqli sebagaimana yang tampak pada pembicaraan mutakallimin, mereka jarang menggunakan dalil-dalil naqli kecuali digunakan setelah menetapkan benarnya pokok persoalan terlebih dahulu kemudian menggunakan dasar-dasar pikiran yakni berupa argumen yang logis-rasional.
  3. Pembuktian tentang keyakinan-keyakinan agama menyerupai logika dalam filsafat, penamaan ilmu kalam adalah untuk membedakan dengan logika dalam filsafat.[4]

Syekh Muhammad Abduh mengatakan ilmu kalam disebut juga dengan ilmu tauhid karena bagiannya yang terpenting menetapkan sifat “wahdah” (satu) bagi Allah dalam zat-Nya dan dalam perbuatan-Nya menciptakan alam seluruhnya dan kepada-Nya lah kembali segala alam ini yang merupakan penghabisan segala tujuan.[5] Asal makna tauhid adalah meyakinkan bahwa Allah SWT satu tidak ada syarikat bagi-Nya.

Husain Affandi Al-Jasr mengatakan ilmu tauhid adalah :

علم التوحيد هو علم يبحث فيه عن اثبات العقائد الدينية بالادلة اليقينية.

“Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas hal-hal yang menetapkan akidah agama dengan dalil-dalil yang meyakinkan.[6]

Disetiap aliran-aliran kalam masing-masing mempunyai dalil-dalil atau kensep-konsep sendiri baik dari dalil naqli maupun dalil aqli yang pada intinya adalah untuk mengEsakan Allah SWT dengan jalan yang mereka tempuh masing-masing. Misalnya kaum khawarij dengan paham ekstrimnya, mu’tazilah dengan lebih mengutamakan daya nalar manusia (akal) dan lain sebagainya.

Dinamakan dengan ilmu ushuluddin atau ilmu ‘aqaid karena persoalan kepercayaan yang menjadi pokok ajaran agama itulah yang menjadi pokok pembicaraannya.[7]

Abu Hanifah menyebut ilmu kalam ini dengan Fiqh al-Akbar, menurut persepsi beliau, hukum Islam itu dikenal dengan istilah fiqh terbagi atas 2 bagian.

  1. Fiqh al-Akbar yang membahas masalah keyakinan atau pokok-pokok agama (ilmu tauhid)
  2. Fiqh al-Ashgar yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah, bukan pokok-pokok agama melainkan hanya persoalan cabang saja.[8]

‘Abd al-Mun’im mengatakan bahwa ilmu kalam mencakup akidah imaniah dengan menggunakan argumentasi rasional. Ilmu itu muncul untuk membela agama Islam dan menolak akidah-akidah yang masuk dari agama lain. Disebut ilmu kalam karena masalah penting yang dibicarakan di dalamnya adalah mengenai kalam Allah, yaitu Al-Qur’an. Ilmu kalam menyangkut persoalan akidah yang mendalam seperti tauhid, hari akhirat, hakikat sifat-sifat Tuhan, qada dan qadar, hakikat kenabian, dan penciptaan Al-Qur’an.[9]

Berkaitan dengan masalah aqidah itu Muzafaruddin Nadvi melihat ada 4 masalah pokok yang menjadi objek kajian penting dalam pemikiran Islam khususnya ilmu kalam yaitu :

  1. Masalah kebebasan berkehendak, yaitu apakah manusia memiliki kebebasan berkehendak atau tidak, apakah mempunyai kekuasaan atau tidak.
  2. Masalah sifat Allah, yaitu apakah Allah memiliki sifat-sifat itu merupakan bagian dari Dzat-Nya atau bukan.
  3. Batasan iman dan perbuatan, apakah perbuatan manusia itu merupakan bagian dari keimanannya atau terpisah
  4. Perselisihan antara akal dan wahyu, yaitu apakah kretieria dari kebenaran itu akal atau wahyu. Dengan kata lain apakah akal menjadi pokok wahyu atau sebaliknya.[10]
  1. B.     Sejarah Munculnya Persoalan-Persoalan Kalam

Menurut Harun Nasution munculnya persoalan ilmu kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan r.a yang kemudian berujung pada penolakan Muawiyah atas terpilihnya Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah keempat dalam sejarah Islam. Ketegangan itu mengkristal dengan timbulnya Perang Shiffin yang selanjutnya berakhir dengan adanya tahkim (arbitrase) antara pihak Ali dengan pihak Muawiyah. Sikap Sayyidina Ali yang menerima tipu daya Amr bin Al Ash seorang utusan dari pihak Muawiyah dalam peristiwa tahkim itu banyak tidak disetujui oleh tentaranya, walaupun beliau sendiri dalam keadaan terpaksa menyetujui tahkim tersebut. Mereka berpendapat bahwa persoalan yang sedang terjadi waktu itu tidak dapat diselesaikan dengan tahkim tetapi hanya dapat diselesaikan dengan hukum Allah yaitu harus kembali kepada aturan-aturan Al-Qur’an. La hukma illa lillah atau la hukma illa Allah, itulah yang kemudian menjadi semboyan mereka. Mereka memandang bahwa khalifah Ali bin Abi Thalib telah melakukan kesalahan hingga mereka meninggalkan barisannya. Dan kelompok inilah yang kemudian dalam sejarah perkembangan Islam dikenal dengan nama kelompok Khawarij (orang yang keluar dan memisahkan diri).[11]

Selain pasukan yang membelot atau keluar dari barisan Ali itu masih ada para pasukan yang masih tetap setia dengan Ali, dan kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama kelompok Syi’ah yang kemudian pada perkembangan selanjutnya akan terbagi lagi menjadi beberapa sekte.

Persolan kalam yang pertamakali muncul adalah masalah siapa yang kafir ? dan siapa yang masih tetap muslim / tidak kafir ? Khawarij memandang bahwa orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim tersebut yaitu Ali, Muawiyah, Amr bin Al Ash, Abu Musa Al-Asy’ari adalah kafir berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 44 :

!$¯RÎ) $uZø9t“Rr& sp1u‘öq­G9$# $pkŽÏù “W‰èd ֑qçRur 4 ãNä3øts† $pkÍ5 šcq–ŠÎ;¨Y9$# tûïÏ%©!$# (#qßJn=ó™r& tûïÏ%©#Ï9 (#rߊ$yd tbq–ŠÏY»­/§9$#ur â‘$t6ômF{$#ur $yJÎ/ (#qÝàÏÿósçGó™$# `ÏB É=»tFÏ. «!$# (#qçR%Ÿ2ur Ïmø‹n=tã uä!#y‰pkà­ 4 Ÿxsù (#âqt±÷‚s? }¨$¨Y9$# Èböqt±÷z$#ur Ÿwur (#rçŽtIô±n@ ÓÉL»tƒ$t«Î/ $YYyJrO WxŠÎ=s% 4 `tBur óO©9 Oä3øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ

Artinya :

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

Persolan-persolan itulah yang kemudian melahirkan 3 aliran / sekte teologi dalam Islam, yaitu :

  1. Khawarij, yang berpendapat bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir dalam arti telah keluar dari Islam (murtad) dan wajib dibunuh.
  2. Murji’ah, yang berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar masih mukmin bukan kafir. Adapun soal dosa yang dikerjakannya hal iru terserah kepada Allah SWT untuk mengampuni atau menghukumnya.
  3. Mu’tazilah, yang berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukan kafir dan bukan pula Mukmin, tetapi di antara keduanya, yang kemudian dikenal dengan istilah al-manzilah manzilatain.

Demikianlah masalah status bagi pelaku dosa besar ini melahirkan 3 aliran kalam sebagaimana disebutkan di atas. Sementara itu lahir pula 2 aliran kalam yang mempunyai paham saling bertentangan satu dengan lainnya yaitu aliran Jabariyah dan Qadariyah. Persoalan yang hangat dibicarakan oleh kedua aliran kalam ini adalah tentang “perbuatan manusia”, atau dikenal dengan nama af’al al ibad, masalah yang dibicarakan ialah apakah perbuatan manusia itu perbuatan Tuhan atau perbuatan manusia secara hakiki.

Aliran Jabariyah berpendapat perbuatan manusia itu pada hakikatnya adalah perbuatan Tuhan, karena manusia tidak mampu mewujudkan suatu perbuatan; dikatakan sebagai perbuatan manusia hanya dalam arti kiasan.[12]

Sedangkan lawan dari aliran Jabariyah adalah aliran Qadariyah yang menurut aliran ini perbuatan manusia itu pada hakikatnya adalah perbuatan manusia itu sendiri yang terwujud melalui kemampuan dan kehendak bebas manusia sendiri. Paham qadariyah ini selanjutnya dikembangkan oleh aliran Mu’tazilah pada perkembangan selanjutnya.[13]

Dalam perkembangan selanjutnya Mu’tazilah dikenal sebagai aliran sangat dipengaruhi oleh filsafat bercorak rasional dan liberal. Pada puncak perkembangannya aliran Mu’tazilah mendapat dukungan dari pihak penguasa Abbasiyyah, Khalifah Ibn al-Ma’un (813 – 833 M) yang menjadikan teologi Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara. Merasa mendapat dukungan pemerintah, maka aliran Mu’tazilah memaksakan dengan kekerasan ajaran-ajaran mereka. Terutama bahwa Al-Qur’an itu makhluk dan tidak qadim. Peristiwa pemkasaan dan tindak kekerasan ini di dalam sejarah umat islam dikenal dengan nama mihnah, kemudian cara pemkasaan yang dilakukan aliran Mu’tazilah ini mulai berkurang ketika khalifah al-Ma’mun wafat dan kemudian digantikan oleh Khalifah al-Mutawakkil, beliau mencabut aliran Mu’tazilah sebagi mazhab resmi negara dan melarang ajaran tentang kemakhklukan al-Qur’an ini berkembang, lebih dari itu beliau lebih cenderung kepada ahl hadits, yang pada zaman al-Ma’mun mendapat tekanan dan tindak kekerasan di masa mihnah.[14]

Akibatnya aliran Mu’tazilah kehilangan simpati umat, bahkan dibenci dan dimaki dan jasa mereka didunia kalam terlupakan. Di saat umat masih trauma dengan peristiwa mihnah maka tampillah Abu Hasan al-Asy’ari dengan ajaran kalamnya yang bertujuan untuk menentang aliran Mu’tazilah yang kemudian dikenal dengan nama aliran Asy’ariyah. Di samping aliran Asy’ariyah ini berkembang pula suatu aliran di Samarkand yang juga bertujuan menentang aliran Mu’tazilah yaitu aliran Maturidiyah yang dididrikan oleh Abu Mansur al-Maturidi. Kemudian kedua aliran kalam yang bertujuan sama ini dikenal dengan aliran ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah.[15]

  1. C.    Sumber dan Faktor Lahirnya Ilmu Kalam

Ada 2 pengaruh yang dapat ditelusuri yang sekaligus juga menjadi sumber dan faktor lahirnya ilmu kalam tersebut, yaitu :

  1. Sumber langsung, yakni Al-Qur’an dan Hadits. Kedua sumber ini memotivasi setiap manusia sehingga memunculkan pemikiran-pemikiran dalam Islam sebagai upaya akal dari para ulama Islam untuk menerangkan Islam dari sumbernya yang asli yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.[16]
  2. Sumber tidak langsung, yaitu dapat ditelusuri melalui pemikiran-pemikiran pra-Islam sejak kekaisaran Byzantium dan Sassanid. Filsafat Yunani maupun akibat pemberontakan-pemberontakan pada masa Islam awal.

Sebab lahirnya ilmu kalam / ilmu tauhid sebenarnya banyak sekali, namun bila dikaji secara keseluruhan ia dapat dikelompokkan menjadi 2 faktor. Ahmad Amin dalam bukunya Dhuha Islam menyebutkan, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya ilmu kalam adalah :

  1. Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor lahirnya ilmu kalam yang berasal dari Islam itu sendiri yaitu :

  1. Al-Qur’an di samping berisi ketauhidan, kenabian dan sebagainya berisi pula semacam apologi dan polemik terutama terhadap agama-agama yang ada pada waktu seperti itu.
  2. Pada mulanya keimanan umat Islam tidak dipermasalahkan secara mendalam, persoalan perdebatan mulai muncul setelah Nabi Muhammad SAW wafat, di samping umat Islam sudah tersebar kemana-mana juga karena pengaruh peradaban dan kebudayaan asing seperti filsafat, penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang kelihatannya bertentangan namun sebenarnya tidak. Hal-hal itulah yang menjadi salah satu penyebab lahirnya ilmu kalam itu.
  3. Masalah politik tentang khilafah juga menjadi salah satu penyebab berkembangnya ilmu kalam ini. Dimulai dari terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan yang penilaiannya berlarut-larut tentang status si pembunuh apakah berdosa atau tidak. Masalah khilafah apakah termasuk masalah agama atau masalah keduniaan, dan lain sebagainya.[17]

Sebenarnya soal khilafah adalah soal politk, agama tidak mengharuskan kaum muslimin mengambil bentuk khilafah tertentu tetapi hany dasar yang umum yaitu kepentingan umum. Peristiwa terbunuhnya Khalifah utsman bin Affan adalah menjadi titik yang jelas dari permulaan berlarut-larutnya perselisihan bahkan sampai terjadi perang saudara antar sesama kaum muslimin. Sejak saat itulah ada bebrapa penilaian dan penganalisisan terhadap terbunuhnya khalifah Utsman tersebut. Menurut segolongan kecil, Utsman adalah kafir dan pembunuhnya berada dipihak yang benar karena perbuatannya yang salah selama memegang khilafah. Sebaliknya pihak lain mengatakan bahwa pembunuhan atas khalifah Utsman adalah suatu kejahatan dan dosa yang besar dan status pembunuhnya adalah kafir karena Utsman adalah khalifah yang sah dan salah satu dari prajurit Islam yang setia. Penilaian yang saling bertentangan inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan perpecahan bahkan peperangan ketika sayyidina Ali r.a menjadi khalifah.

Dari peristiwa itulah kemudian muncul soal-soal lainnya soal iman dan hakikatnya, berkurang atau bertambahnya, soal imamah, dan soal-soal lainnya. Kemudian dilanjutkan lagi dengan soal dosa, dari sumber inilah akan bisa dengan mudah divonis orang yang melakukan pembunuhan itu. Kemudian timbul lagi persoalan apakah perbuatan itu bersumber dari manusia ataukah berasal dari Tuhan yang kemudian melahirkan kaum Jabariyah dan Qadariyah dan persoalan-persolan yang akan berkembang lainnya.[18]

  1. Faktor Ekstern

Faktor dari luar yang menyebabkan lahirnya ilmu kalam seperti pola pikir ajaran agama lain yang masuk ke dalam ajaran Islam oleh orang yang dahulunya menganut agama lain, bahkan orang Islam telah banyak mempelajari filsafat Yunani atau pengetahuan lainnya untuk kepentingan pendekatan dakwah islamiyyah kepada para filosof atau orang pandai lainnya.

Persentuhan itu baik secara langsung atau tidak akan mempengaruhi pola pikir manusia yang akan terjadi hubungan timbal balik saling memberi dan menerima. [19]

Ahmad hanafi dalam bukunya Thelogy Islam mengatakan bahwa yang menjadi faktor ekstern lahirnya persoalan kalam adalah :

  1. Banyak di antara pemeluk-pemeluk Islam yang mulanya adalah Yahudi, Masehi dan lain-lain bahkan ada yang pernah menjadi ulamanya, setelah mereka masuk Islam mereka mulai mengingat-ingat kembali ajaran-ajaran agamanya yang dulu dan kemudian dimasukkan ke dalam ajaran agama Islam.
  2. Golongan Islam yang dulu, terutama Mu’tazilah memusatkan perhatiannya untuk penyiaran Islam dan membantah alasan-alasan mereka yang memusuhi Islam. Untuk mengalahkan pendapat musuh adalah dengan mengetahui dasar-dasar pendapat mereka, maka salah satu senjatanya adalah penggunaan filsafat sebagai senjata kaum muslimin.
  3. Sebab selanjutnya adalah, para mutakallimin ingin mengimbangi lawan-lawannya yang menggunakan filsafat, oleh karena itu mereka mempelajari logika dan filsafat terutama segi Ketuhanan.[20]

Ja’far Subhani dalam bukunya al-Milal wan Nihal menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya firqah-firqah dalam Islam adalah :

  1. Tendensi (kecenderungan) yang dipengaruhi oleh kepartaian dan fanatisme kesukuan
  2. Kesalahpahaman tentang dan pemutarbalikkan hakikat agama.
  3. Larangan menulis hadits Rasulullah SAW menukil serta merawikannya.
  4. Memberi peluang yang luas kepada Ahbar (pendeta Yahudi) dan Ruhban (pendeta Nasrani) menceritakan kisah-kisah orang-orang terdahulu dan kemudian
  5. Percampuran kebudayaan dan peradaban antara kaum Muslim dan bangsa-bangsa selainnya termasuk Parsi, Romawi dan Hindia.
  6. Ijtihad bertentangan dengan nas.[21]

v  Faktor pertama : Tendensi (kecenderungan) yang dipengaruhi oleh kepartaian dan fanatisme kesukuan.

Perpecahan umat ini pertamakali adalah tentang masalah Imamah, yang menyebabkan terjadinya pertengkaran antar umat Islam dan pada khirnya terjadi perpecahan ditubuh umat Islam menjadi beberapa firqah.

Pada satu sisi , Ali .as dan pemuka-pemuka Ahl Bayt dari bani Hasyim senantiasa bertumpu pada nas. Persoalan Imamah adalah persoalan Nubuwwah, yang tidak akan terwujud kecuali dengan nas (sharih). Sedangkan nas tentang itu pernah diungkapkan oleh Nabi SAW pada beberapa kesempatan dan tempat yang berbeda. Terakhir beliau ungkapkan pada peristiwa Ghadir Khumm yang masyhur itu, beliau ditengah-tengah jama’ah yang besar jumlahnya beliau dalam pidatonya yang agak panjang seraya mengangkat lengan Ali bersabda :

من كنت مولاه فهذا على مولاه ……

“……siapapun yang memperwakilkan aku, maka ini Ali adalah walinya …”

Di sisi lain jenazah Nabi yang suci itu sedang dipersiapkan untuk dimandikan dan dimakamkan, kaum Anshar berkumpul di balairung (saqifah) untuk membicarakan masalah imamah atau khilafah. Mereka berpendapat bahwa kepemimpinan adalah hak kaum Anshar, karena mereka berpendapat merekalah yang telah berjasa dalam membantu Nabi. Pemuka mereka Sa’ad bin ‘Ubadah berupaya dengan segala kemampuanya menarik simpati massa agar bergabung dengan partainya dengan memberikan alasan-alasan.

Dan dari segi lain, mendengar kaum Anshar berkumpul di Balairung (saqifah) dengan segera meninggalkan jenazah Nabi bergabung dengan mereka dan menimpali alasan-alasan yang dilontarkan kaum Anshar. Kaum Muhajirin mengatakan: sungguh merekalah yang pertamakali menyembah dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya di muka bumi ini, mereka adalah sahabat dan kerabat dekat Nabi serta manusia yang paling berhak dan patut dalam masalah khilafah ini.

Memang heboh memuncaknya pertengkaran memperebutkan jabatan khalifah (antara kaum Muhajirin dan Anshar) pada akhirnya mereda. Sementara jabatan Khalifah dikukuhkan bagi Abu Bakar as-Shiddiq r.a dengan dukungan dari Anshar, yaitu Bisyir ibn Sa’ad saudara sepupu Sa’ad bin ‘Ubadah yang berbaiat kepada Abu Bakar. Dengan demikian padamlah harapan Sa’ad bin ‘Ubadah beserta kaumnya Khazraj untuk mengambil alih jabatan khalifah.

Dengan demikian kaum Muhajirin mulai menduduki jabatan khalifah secara bergilir hingga sampai pada khalifah ketiga Utsman bin Affan r.a yang pada zamannya terjadi kejadian-kejadian yang menyedihkan, bid’ah-bid’ah tumbuh subur yang pada akhirnya Utsman sendiri terbunuh. Meski demikian Ali dan Bani Hasyim serta kelompom dari kaum Muhajir, Badriyyin (pejuang Badr) dan sejumlah pemuka kaum Anshar tetap berpegang teguh pada nas-nas Nabawi dan konsekuen terhadap apa-apa yang telah diwasiatkan Rasulullah SAW atas mereka. Pemuka kaum Anshar dari kalangan Khazraj dan pendukungnya tidak berbaiat kepada Abu Bakar dan tidak pula kepada Ali r’a.

Demikianlah sekilas asal-usul timbulnya perpecahan antar umat Islam. Satu firqah mengikuti khulafa (ketiga khalifah pertama) dan yang satu lagi mengikuti Ali r.a hingga kini. Dan mereka yang mengikuti Ali (Syi’ah) tidak lain hanya karena berpegang pada asas agama dan tunduk serta patuh dengan nas yang ditetapkan oleh Nabi SAW tanpa diwaranai pengaruh kepartaian dan kesukuan, tetapi sepenuhnya menerima sebagai manifestasi firman Allah SWT[22] :

$tBur tb%x. 9`ÏB÷sßJÏ9 Ÿwur >puZÏB÷sãB #sŒÎ) Ó|Ós% ª!$# ÿ¼ã&è!qߙu‘ur #·øBr& br& tbqä3tƒ ãNßgs9 äouŽzÏƒø:$# ô`ÏB öNÏd̍øBr& 3 `tBur ÄÈ÷ètƒ ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur ô‰s)sù ¨@|Ê Wx»n=|Ê $YZÎ7•B ÇÌÏÈ

Artinya :

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS. Al-Ahzab: 36)

v  Faktor kedua : Kesalahpahaman tentang dan pemutarbalikkan hakikat agama.

Faktor kedua inilah yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi beberapa sekte yang berjauhan, karena kesalahpahaman dan kelalaian di antara sebagian mereka memberikan batasan akidah, dan kurangnya daya pikir dan nalar dalam memahami esensi agama.

Penduduk Iraq, Hijaz dan Mesir melakukan pemberontakan  terhadap Utsman yang mengakibatkan terbunuhnya beliau, akibat ulah pembantunya sehingga peristiwa menggenaskan itu terjadi. Sesudah kejadian itu Ali menduduki jabatan Khalifah dan umat memandang beliau sebagai pribadi yang memiliki budi pekerti yang luhur dan mulia baik dari segi ilmu pengetahuan maupun perjuangannya yang tiada tara dengan Rasulullah SAW dan lain sebagainya. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah dengan mengadakan perombakan secara menyleuruh kursi-kursi pemerintahan antara lain dengan memecat pejabat teras pada masa Utsman dan menggantikannya dengan orang-orang yang bertakwa  zuhud sesuai dengan keahliannya.

Pada waktu itu datang Zubair bin Awwam dan Thalhah bin ‘Ubaidillah menghadap Ali dan meminta agar masing-masing diberi jabatan wali di Kufah dan Basrah. Berdasarkan prosedur dalam mengangkat pembantu-pembatunya Ali mengajukan beberapa persyaratan yang pada akhirnya tidak disetujui oleh mereka. Ketika mereka berdua tidak diberi kedudukan yang dikehendaki,s egera di dorong oleh rasa dengki, mereka berupaya mengadakan pemberontakan terhadap Imam Ali r.a, dan demi membenarkan sikapnya, mereka menuduh Ali sebagai otak pembunuhan Khalifah Utsman r.a atau pelindung para pembunuhnya. Maka berkobarlah api peperangan antara Ali ra.a dengan Zubair bin Awwam dan Thalhah di sekitar kota Bashrah, yang menyebabkan kedua lawan Ali itu terbunuh, peristiwa ini dikenal dengan nama perang Jamal (perang onta).

Tatkala posisi Ali yang sebegitu tegar dan tegas dalam menggeser pembantu Utsman dari jabatannya, Mu’awiyah memohon kepada Ali agar memberikan kedudukan kepadanya sebagai wali di Syam. Ali menolaknya, lantaran keperibadian dan penyelewengan yang dilakukannya. Akibatnya terjadilah perang shiffin yang kemudian berkahir dengan peristiwa tahkim.  Dan dengan adanya peristiwa itu lahirlah golongan khawarij, syi’ah dan murji’ah.[23]

v  Faktor ketiga : Larangan menulis hadits Rasulullah SAW menukil serta merawikannya.

Pada hakikatnya konflik-konflik yang terjadi setelah permulaan Islam banyak membawa kepalsuan riwayat dan hadits.  Umat terhalang dari sunnah nabawiyah shahihah hampir satu setengah abad lamanya. Ini menunjukkan bahwa beberapa hadits ditentukan oleh selera para pemalsu dan pembohong, akibatnya lahirlah berbagai akidah dan mazhab.[24]

v  Faktor keempat : Memberi peluang yang luas kepada Ahbar (pendeta Yahudi) dan Ruhban (pendeta Nasrani) menceritakan kisah-kisah orang-orang terdahulu dan kemudian.

Kerugian yang diderita Islam dan kaum Muslimin akibat pelarangan penulisan dan penyebaran hadits amat besar, betapa tidak, karena tersebar luasnya kekacauan dalam akidah , amal ibadah, etika, pendidikan dan prinsip-prinsip Islam akibat pelarangan itu. Keadaan ini menjadi lahan yang cocok untuk berkembangnya bid’ah-bid’ah israiliyat, cerita-cerita picisan masehiyat dan dongeng-dongeng fiktif majusiyat. Terutama tindakan para Ahbar dan Ruhban, mereka banyak menciptakan seakan hadits itu dari para Nabi dan Rasul as, mereka juga menciptakan dongeng-dongeng picisan yang seolah-olah bersumber dari lisan Nabi mulia as. Berikut ini ada beberapa pendapat sejarahwan tentangnya :

  1. Syahrastani menulis: “Orang-orang Yahudi yang memeluk Islam, banyak memasukkan hadits tajsim dan tasybih, yang kesemua itu bersandarkan Kitab taurat.[25]
  2. Assayyid Murtadha berkata : “Tatkala menjabat sebagai wali kufah pada masa pemerintahan al-Manshur, Muhammad ibn Sulaiman menangkap Abdulkarim ibn Abil ‘Auja’, dan menghadirkannya ke hadapan khalayak ramai untuk menjalani hukuman mati. Karena itu, ia yakin bahwa ajalnya telah dekat. Ia berkata : “Jika kalian membunuhku, sesungguhnya aku telah memasukkan ke dalam hadits-hadits kalian 4.000 hadits palsu.[26]
  3. Ibn Al-Jauzi menulis: “Abdulkarim adalah anak tiri Hammad ibn Salamah. Ia juga menyisipkan hadits-hadits palsu ke dalam kitab (nya) Hammad ibn Salamah.[27]

v  Faktor kelima : Percampuran kebudayaan dan peradaban antara kaum Muslim dan bangsa-bangsa selainnya termasuk Parsi, Romawi dan Hindia.

Setelah Rasulullah SAW wafat, umat Islam telah berhasil mengembangkan sayap kekuasaanya hingga ke beberapa negeri dan wilayah yang memiliki berbagai peradaban dan kebudayaan. Kemudian dikalangan umat Muslim banyak yang menaruh minat untuk mempelajari pengetahuan peradaban setempat seperti adab dan kesenian. Keinginan mereka itu dikembangkan lewat diskusi, seminar sampai dengan menrjemahkan buku-buku mereka ke dalam bahasa Arab. Pemikiran-pemikiran dari negeri yang dikuasai itu sangat mempengaruhi pemikiran kaum Muslimin. Sementara sebagian mereka membentengi dengan peradaban dan kebudayaan Islam yang memberantas syubhah dan mempertahankan nilai-nilai ajaran shahih. Sedangkan yang berpikiran awwam dan lemah serta terbelakang menganggapnya lumrah maka tidak ada jalan lain kecuali menerimanya. Karena pemikrian-pemikiran sedemikian itu merupakan sebab utama timbulnya berbagai firqah dan aliran dalam Islam.[28]

v  Faktor keenam : Ijtihad bertentangan dengan nas

Dalam faktor ini, yakni ijtihad yang bertentangan dengan nas menimbulkan mazhab-mazhab kalamiyah dan fiqhiyyah.

Adapun mazhab-mazhab fiqih yang timbul berkaitan dengan faktor ini, beberapa di antaranya :

  1. Tidak memberikan bagian zakat kepada muallafatu qulubuhum. Padahal secara tegas nas Al-Qur’an menyatakan supaya memberikan bagian kepada mereka.

* $yJ¯RÎ) àM»s%y‰¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% †Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur †Îûur È@‹Î6y™ «!$# Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒO‹Å6ym ÇÏÉÈ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)

  1. Pelarangan haji tamattu’, padahal nasnya qath’i dalam Al-Qur’an :

4 `yJsù öN©9 ô‰Ågs† ãP$u‹ÅÁsù ÏpsW»n=rO 5Q$­ƒr& ’Îû Ædkptø:$# >pyèö7y™ur #sŒÎ) öNçF÷èy_u‘ 3 y7ù=Ï? ×ouŽ|³tã ×’s#ÏB%x. 3 y7Ï9ºsŒ `yJÏ9 öN©9 ô`ä3tƒ ¼ã&é#÷dr& “ÎŽÅÑ$ym ωÉfó¡yJø9$# ÏQ#tptø:$# 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqßJn=ôã$#ur ¨br& ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÊÒÏÈ

….. Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.

PENUTUP

 

Kesimpulan

  1. Ilmu kalam dinamakan juga dengan ilmu tauhid, ilmu ushuluddin, dan fiqh al-akbar.
  2. Ada 2 pengaruh yang dapat ditelusuri yang sekaligus juga menjadi sumber dan faktor lahirnya ilmu kalam tersebut, yaitu : sumber langsung, yakni Al-Qur’an dan Hadits dan sumber tidak langsung, yaitu dapat ditelusuri melalui pemikiran-pemikiran pra-Islam sejak kekaisaran Byzantium dan Sassanid.
  3. Ahmad Amin dalam bukunya Dhuha Islam menyebutkan, bahwa ada 2 faktor yang menyebabkan lahirnya ilmu kalam yaitu faktor Intern dan faktor ekstern.
  4. Ja’far Subhani dalam bukunya al-Milal wan Nihal menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya firqah-firqah dalam Islam adalah :
    1. Tendensi (kecenderungan) yang dipengaruhi oleh kepartaian dan fanatisme kesukuan
    2. Kesalahpahaman tentang dan pemutarbalikkan hakikat agama.
    3. Larangan menulis hadits Rasulullah SAW menukil serta merawikannya.
    4. Memberi peluang yang luas kepada Ahbar (pendeta Yahudi) dan Ruhban (pendeta Nasrani) menceritakan kisah-kisah orang-orang terdahulu dan kemudian
    5. Percampuran kebudayaan dan peradaban antara kaum Muslim dan bangsa-bangsa selainnya termasuk Parsi, Romawi dan Hindia.
    6. Ijtihad bertentangan dengan nas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abduh, Syekh Muhammad, 1963, Risalah tauhid, Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Asmuni, M.Yusran, Drs, 1996, Ilmu Tauhid,Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

___________________, 1996, Dirasah Islamiyyah II (Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Asy’ari, Abu Al-Hasan Al-, 1963, Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhlaf al-Mushallin, Wiesbaden Frane Steiner verlag GBHN. cet. II.

Bahiy, Muhammad Al-, 1985, Pemikiran Dalam Islam, terjemahan Bambang S, Bandung: Risalah.

Ghazali, Adeng Muchtar, Drs, M.Ag, 2005, Perkembangan Ilmu Kalam dari Klasik hingga Modern,Bandung: Pustaka Setia.

 

Hanafim Ahmad, MA, 1996, Theology Islam (Ilmu Kalam), Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Jasr, Husain Affandi al, Al-Husun al-Hamidiyyah, Surabaya: Assaqafiyyah.

lhamuddin, 1997, Pemikiran Kalam al Baqilani Studi Tentang Persamaan dan Perbedaannya dengan al-Asy’ari, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya.

Madjid, Nurcholis, DR, 1987, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Bandung: Mizan.

____________________, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Yayasan Paramadina

Mircea Eliade, ed, 1987, The Encyclopaedia of Religion, Vol. VII, Mac Millan Publishing Company, New York

Mun’im, Abd al, 1978, Tarikh al-Hadarat al-Islamiyyah fi al-‘Usr al-Wusta, Mesir: Maktabah al-Anjlu al Misriyyat.

Nurdin, H.M. Amin, Drs, MA dan Drs. Afifi Fauzi Abbas, MA, 1996, Sejarah Pemikiran Dalam Islam, Teologi / Ilmu Kalam, Jilid II, III dan IV, PT. Pustaka Antara kerjasama dengan LSIK.

Rozak, Abdul, DR, M.Ag dan DR. Rosihan Anwar, M.Ag, 2007, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia.

Subhani, Ja’far, 1997, Al-Milal wan Nihal Studi Tematis Mazhab Kalam, Penerbit Al-Hadi.

Watt, W.Montgomery, 1987, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, terj. Umar Basalim, Jakarta: P3M.

Zahrah, Muhammad Abu, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah, jilid I, Dar al-Fikr al-Arabi, t.t


[1]Nurcholis Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Paramadina) dikutip dari http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Doktrin/Kalam1.html, di akses tanggal 9 September 2008

[2]Mircea Eliade, ed, The Encyclopaedia of Religion, Vol. VII, Mac Millan Publishing Company, New York, 1987 hal. 231  dikutip dari Drs. Adeng Muchtar Ghazali, M.Ag dalam buku Perkembangan Ilmu Kalam dari Klasik hingga Modern, (bandung: Pustaka Setia, 2005), h.19

                [3]Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa a.s. merupakan keistimewaan Nabi Musa a.s., dan karena Nabi Musa a.s. disebut: Kalimullah sedang Rasul-rasul yang lain mendapat wahyu dari Allah dengan perantaraan Jibril. dalam pada itu Nabi Muhammad s.a.w. pernah berbicara secara langsung dengan Allah pada malam hari di waktu mi’raj.

[4]Adeng Muchtar Ghazali, Op. Cit, h. 25

[5]Syekh Muhammad Abduh, Risalah tauhid, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1963), h. 3

[6]Husain Affandi al-Jasr, Al-Husun al-Hamidiyyah, (Surabaya: Assaqafiyyah, t.t), h. 6

[7]Ahmad Hanafi, Theology Islam (Ilmu Kalam), (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996), h. 5

[8]Abu Hanifah dalam Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), h. 13

[9]Abd al-Mun’im, Tarikh al-Hadarat al-Islamiyyah fi al-‘Usr al-Wusta, (Mesir: Maktabah al-Anjlu al Misriyyat, 1978), h. 180 yang dikutp dari buku Ilhamuddin, Pemikiran Kalam al Baqilani Studi Tentang Persamaan dan Perbedaannya dengan al-Asy’ari, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 2

[10]Muzarafuddin dalam Adeng Muchtar Ghzali, Op. Cit, h. 33

[11]W.Montgomery Watt, Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam, terj. Umar Basalim, (Jakarta: P3M, 1987), h. 10 . lihat M.Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid,(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 91 – 97. Lihat Drs H.M. Amin Nurdin, MA dan Drs. Afifi Fauzi Abbas, MA, Sejarah Pemikiran Dalam Islam, Teologi / Ilmu Kalam, (PT. Pustaka Antara kerjasama dengan LSIK, 1996), h. XII

[12]Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah, jilid I, (Dar al-Fikr al-Arabi, t.t), h. 115 dikutip dari Sejarah Pemikiran Dalam islam (Ilmu Kalam II),(Jakarta: PT. Pustaka Antara bekerjasama dengan LSIK, 1996), h. 7

[13]Ibid,

[14] Ibid, h. 8

[15]Ibid

[16]Muhammad Al-Bahiy, Pemikiran Dalam Islam, terjemahan Bambang S, (Bandung: Risalah, 1985), h. 15

[17]Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyyah II (Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 51

[18] Ahmad  Hanafi, Op.Cit, h. 9 – 10

[19] Ibid

[20] Ibid, h. 11 – 12

[21]Ja’far Subhani, Al-Milal wan Nihal Studi Tematis Mazhab Kalam, (Penerbit Al-Hadi, 1997), h. 37 – 38

[22]kIbid, h. 38 – 43

[23]Ibid, h. 43 – 47

[24]Ibid, h. 68

[25]Al-Milal wan-Nihal, Juz 1, h. 117 dalam Ibid, h. 69

[26]Amali Al Murtadha, Juz 1, h. 127 – 128 dalam Ibid, h. 70

[27]Al-Maudhu’at, h. 37, edisi Madinah; juga lihat Tahdzibut Tahdzib, Juz 3, h. 11 – 16 dalam Ibid, h. 71

[28]Ibid, h. 100 – 101

Bookmark the permalink.

Comments on Facebook